Postingan

Tentang Rasa

 Hai.. Gimana kabar kamu hari ini? Aku tentunya merasa tidak baik. Masih sama seperti yang lalu. Kali ini aku kembali merasakan aku tidak berguna. Aku tau semuanya tidak harus selalu bisa kan? Tapi aku benar-benar merasa tidak bisa melakukan apapun. Aku sama sekali merasa tidak memiliki nilai. Aku hanya melakukan kesalahan. Aku hanya bekerja dengan seadanya. Semakin hari semakin lama aku mengerjakan sesuatu. Semakin lama dan aku semakin merasa tertinggal sendirian. Aku merasa aku ditinggalkan atau aku dijauhi karena aku memang tidak bisa melakukan apapun. Tapi, sebenarnya aku bisa melakukan apa yang aku mau. Hanya saja, kemauan aku selalu berbeda dengan kemauan orang di sekitarku. Mereka mematok satu nilai yang di rasa terbaik untuk mereka. Mereka aplikasikan sama rata untuk setiap orang. Aku, hanya aku yang tidak bisa mengikuti standar itu. Jadi, aku merasa tertinggal. Sebenernya, wajar kan kalau aku merasa tertinggal? Sekeras apapun aku berusaha, bahkan selalu dirasa ku...

Satu yang Ku Temui

Aku selalu bertanya pada ketidakpastian yang ada. Menurutku, semua hanya menyakitkan. Tapi katanya, ini hanya sebuah awal. Awal yang menyakitkan, mungkin akan ada hal indah di akhirnya. Tapi, kapan akhir itu akan tiba?  Aku selalu bertanya, mengapa harus aku? Apalagi ini? Apa kekuranganku? Apa yang harus dilakukan? Apa harus seperti ini? Apa tidak ada jalan lain?  Aku selalu berkata, aku ingin menyerah. Aku ingin marah. Bahkan aku ingin menghilang. Nyata nya, aku hanya tidak siap atas semuanya. Aku hanya bersiap untuk sebuah kejadian yang aku inginkan. Aku hanya bersiap atas segala hal yang bagiku menyenangkan. Nyatanya, segala hal tidak bisa terjadi sesuai keinginan kita saja. Nyatanya, segala hal tidak bisa kita kontrol dan harus berjalan sesuai harapan kita. Saat itu, aku mulai mengerti.. Amarahku, kebencianku bahkan mungkin kepergianku… Tidak membuat semua nya kembali.. Perjalananku saat ini, jalan yang sudah aku lewati selama belasan tahun, tidak akan berubah begitu saja....

Lintas

Waktu yang terus maju... Seakan tidak peduli seberapa berat masa itu.. Seakan semua dipaksa harus  mengikutinya... Sekeras apapun upaya untuk menghentikannya,  semua tidak akan berhenti. Semua tetap berputar pada porosnya. Berfokus pada peran yang sudah dimiliki. Bertahan pada situasi dan kondisi. Melanjutkan perjalanannya.. Melewati berbagai cara... Saat semua terombang-ambing dengan ketidakpastian... Saat semua menyatu untuk sebuah penghakiman... Saat tidak ada yang bisa lagi digenggam... Namun tidak ada pula yang bisa dilepaskan... Kenyataan yang tidak bisa ditolak.. Pertanyaan yang sudah mutlak jawabannya... Bahkan mungkin pertanyaan sudah ditiadakan. Semua hanya pernyataan. Tidak memiliki pilihan... Mungkin saat-saat seperti ini, harapan adalah salah satu cara bertahan... Namun bagaimana jika sudah tidak ada harapan? Apa lagi alasan bertahan? Lalu bagaimana jika sudah tidak ada tujuan? Apa masih ada alasan untuk melanjutkan? Lalu jika semua sudah tiada, siapa lagi yang bi...

KEMBALI

Hai, aku kembali. Semakin hari semakin melelahkan, ya.. Semakin hari semakin ingin menghilang.. Terkadang, terasa seperti tidak ada yang menginginkan kehadiranku. Terkadang, terasa seperti tidak ada yang membutuhkan hidupku. Terkadang, terasa seperti tidak ada yang merindukan kepergianku. Terkadang, terasa seperti tidak ada yang mengerti keadaanku. Tapi, aku sadar. Kehidupan ini milikku. Aku yang bertanggung jawab atas kehidupan sendiri. Jika bukan aku yang membutuhkan, lalu siapa lagi yang akan membutuhkan aku? Jika bukan aku yang merindukan, lalu adakah orang lain yang akan merindukanku? Hei, aku kembali. Terkadang, dengan cara melihatmu membuat aku lebih tenang. Terkadang, dengan cara mengingatmu aku merasa membaik. Terkadang, dengan berharap bisa kembali ke masa itu membuatku merasa tidak sendiri. Tapi kali ini... Saat aku melihatmu, itu membuat kesedihanku terasa lebih dalam. Saat aku mengingatmu, itu membuat rasa kehilangan jauh lebih menyakitkan. Tapi kali ini...

Sebuah Penghargaan

Penghargaan untuk diri sendiri. Memaafkan diri sendiri. Menerima diri sendiri. Memperbaiki diri sendiri. Mencintai diri sendiri.   Bertumpu pada diri sendiri. Berjuang dengan diri sendiri. Berharap pada diri sendiri. Bertahan untuk diri sendiri.   Pengahargaan untuk diri sendiri.   Karena diri ini layak mendapatkan hal baik. Karena diri ini layak bertemu dengan orang baik. Karena diri ini layak untuk menjadi yang terbaik.   Penghargaan untuk diri sendiri.   Terima kasih, Karena diri ini hebat, Karena diri ini kuat, Karena diri ini cepat. Hebat melepaskan, Kuat memaafkan, Cepat menerima pelajaran.   Penghargaan untuk diri sendiri.   Diri ini sudah merasa cukup. Cukup melakukan yang terbaik. Cukup berusaha yang terbaik. Cukup bersabar untuk mendapatkan yang tebaik.

Sebuah Perjalanan

Hari pertama perjalananku melepaskanmu, aku menangis, aku marah, aku kecewa. Hari kedua perjalananku melepaskanmu, aku masih mencari alasan dari setiap kejadian. Hari ketiga perjalananku melepaskanmu, aku tersadar. Aku menemukan jawaban. Aku bukan tujuan. Ketika kamu selalu berkata,  "aku ingin pulang" . Ketika kamu selalu berkata,  "sabar, aku akan segera pulang" . Ketika kamu selalu berkata,  "sabar, tunggu aku pulang" . Bagiku, itu sebuah permohonan darimu yang terdalam. Bagiku, itu sebuah harapan yang akan segera menjadi kenyataan. Bagimu, itu hanya sebuah candaan. Bagimu, itu hanya sebuah permainan dalam perjalanan sebelum kamu sampai di tujuan.  Hari keempat perjalananku melepaskanmu, keyakinanku bertambah, kalau kamu memang akan segera pulang. Tapi bukan aku, sebagai tempat tujuanmu pulang. Hari kelima perjalananku melepaskanmu, aku melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan olehmu. Bermain bersama teman, untuk menutupi berbagai perasaan dan mel...

Sebuah Persimpangan

Ada yang bilang hidup ibarat sebuah rumah, orang-orang datang dan pergi ke rumahmu. Ada yang betah bertahan, ada yang bertamu sebentar, bahkan ada yang hanya sampai depan pintu.   Lalu pertanyaanku, Termasuk definisi yang manakah maksud dari kehadiranmu? Hanya bertamu atau hanya sampai depan pintu? Tidak, aku rasa untuk sampai depan pintu rumahku saja masih sangat jauh. Apalagi untuk bertamu.   Sejujurnya, sampai depan pintuku atau bertamu, Bukan urusanku, bukan masalahku. Aku sebagai pemilik rumah, tidak bisa memaksa siapa yang harus berkunjung, termasuk kamu.   Bagiku, kita hanya sebatas orang asing yang dipertemukan oleh ketidaksengajaan. Bagiku, kita sekedar melintas dalam persimpangan yang sama, seakan menuju tempat yang sama. Berbincang karena keadaan, dan tertawa atas sebuah kejadian. Setelah itu, kita kembali menjadi orang asing, yang tak pernah saling menyapa.   Tapi yang harus kamu tau, Aku senang pernah melinta...