Satu yang Ku Temui
Aku selalu bertanya pada ketidakpastian yang ada.
Menurutku, semua hanya menyakitkan. Tapi katanya, ini hanya sebuah awal. Awal yang menyakitkan, mungkin akan ada hal indah di akhirnya.
Tapi, kapan akhir itu akan tiba?
Aku selalu bertanya, mengapa harus aku? Apalagi ini? Apa kekuranganku? Apa yang harus dilakukan? Apa harus seperti ini? Apa tidak ada jalan lain?
Aku selalu berkata, aku ingin menyerah. Aku ingin marah. Bahkan aku ingin menghilang.
Nyata nya, aku hanya tidak siap atas semuanya. Aku hanya bersiap untuk sebuah kejadian yang aku inginkan. Aku hanya bersiap atas segala hal yang bagiku menyenangkan.
Nyatanya, segala hal tidak bisa terjadi sesuai keinginan kita saja. Nyatanya, segala hal tidak bisa kita kontrol dan harus berjalan sesuai harapan kita.
Saat itu, aku mulai mengerti.. Amarahku, kebencianku bahkan mungkin kepergianku… Tidak membuat semua nya kembali.. Perjalananku saat ini, jalan yang sudah aku lewati selama belasan tahun, tidak akan berubah begitu saja.
Saat aku mulai menerima, kejadian itu terulang kembali. Pertanyaan itu muncul kembali… Mengapa harus terjadi? Bukan kepada diriku, tetapi orang terdekatku. Mengapa dengan perjalanan yang lebih panjang? Apa dia lebih bisa menerima dan melepaskan? Aku tau ini tidak mudah.
Sejujurnya, aku membenci peristiwa ini. Aku membenci keadaan yang berulang. Aku menangis… Tapi lagi-lagi, aku harus terlihat kuat. Aku marah… Tapi sudah tidak ada subjek yang bisa aku jadikan alasan untuk marah. Bukan wewenangku untuk marah. Tapi saat ini, aku hanya ingin marah. Entah kepada siapa aku harus marah.
Kejadian ini, mengingatkanku pada kejadian beberapa tahun lalu. Jelas terlihat, bagaimana aku ingin mencoba memulai lagi.. Bagaimana aku dipertemukan.. Bagaimana perbincangan itu ada… Dan bagaimana dia pergi tanpa sebuah kata.
Aku tersadar, emosi yang masih aku simpan. Pertanyaan yang masih aku simpan, bahkan ketidak-terimaanku selama ini yang masih aku tutupi.
Aku mulai berani jujur dan bertanya, mengapa dia pergi tanpa pamit? Mengapa dia memilih untuk melakukan hal yang bahkan dia sendiri belum mau dan belum siap?
Bohong kalau saat itu aku tidak merasa kehilangan. Bohong kalau saat itu aku tidak merasa patah, sedih, kecewa, marah. Bohong kalau aku merasa diriku baik-baik saja. Bohong kalau aku bilang bukan karena kejadian ini, aku jadi kehilangan semangatku bahkan tujuanku.
Tidak ada yang tau pasti… Tidak ada yang bisa kembali… Tapi satu yang sudah ku temui… Semua ini sudah ditakdirkan, terjadi…
Komentar
Posting Komentar