Sebuah Perjalanan
Hari pertama perjalananku melepaskanmu,
aku menangis, aku marah, aku kecewa.
Hari kedua perjalananku melepaskanmu,
aku masih mencari alasan dari setiap kejadian.
Hari ketiga perjalananku melepaskanmu,
aku tersadar. Aku menemukan jawaban.
Aku bukan tujuan.
Ketika kamu selalu berkata, "aku ingin pulang". Ketika kamu selalu berkata, "sabar, aku akan segera pulang". Ketika kamu selalu berkata, "sabar, tunggu aku pulang".
Bagiku, itu sebuah permohonan darimu yang terdalam. Bagiku, itu sebuah harapan yang akan segera menjadi kenyataan.
Bagimu, itu hanya sebuah candaan. Bagimu, itu hanya sebuah permainan dalam perjalanan sebelum kamu sampai di tujuan.
Hari keempat perjalananku melepaskanmu, keyakinanku bertambah, kalau kamu memang akan segera pulang. Tapi bukan aku, sebagai tempat tujuanmu pulang.
Hari kelima perjalananku melepaskanmu,
aku melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan olehmu. Bermain bersama teman, untuk menutupi berbagai perasaan dan melupakan sejenak keadaan.
Sampai tiba di tempat peristirahatan, aku mendapat sebuah teguran.
"Kamu menangis, kamu berat melepaskan. Apakah kamu lebih sanggup bersamanya?"
"Kamu mencari jawaban, bagiku ini sudah sebuah jawaban."
"Kamu memohon didekatkan, kamu juga mohon untuk dijauhkan, sesuai ketentuan yang terbaik dari-Nya untuk kalian."
"Bagiku ini semua sudah dikabulkan".
Hari keenam perjalananku melepaskanmu, aku mencoba memahami. Aku mencoba menerima, dan aku mencoba memaafkan.
Aku memahami, bagaimana alur dari setiap tindakan. Aku memahami bagaimana aku membuat kekacauan.
Aku menerima jika itu harus menyakitkan. Aku menerima jika harus berakhir pada sebuah perpisahan.
Aku memaafkan segala keadaan, aku memaafkan segala hal yang bersangkutan. Aku memaafkan apapun kesalahan. Aku memaafkan meskipun permainan ini merenggut sebuah kepercayaan.
Hari ketujuh perjalananku melepaskanmu, aku beranikan diri untuk tetap berharap pada sebuah kebahagiaan.
Kebahagiaan kamu terhadap perjalanmu selama menelusuri jalan pulang.
Kebahagian dia terhadap perjalanannya selama mendampingimu untuk pulang.
Kebahagian dia yang lain, terhadap perjalanannya menunggu kamu pulang.
Dan kebahagiaanku terhadap perjalananku melepaskanmu untuk bisa benar-benar menemukan tempat pulang.
Perjalananku melepaskanmu, mungkin akan banyak tangisan. Perjalananku melepaskanmu, mungkin akan bertemu pada sebuah kebimbangan. Tapi aku sadar akan sebuah kesanggupan.
Karena saat ini aku lebih sanggup melakukan sebuah perjalanan untuk melepaskanmu, daripada melakukan perjalanan bersamamu yang masih belum bisa memutuskan tempat tujuanmu pulang, dan kapan kamu akan pulang.
Karena saat ini aku lebih sanggup melakukan sebuah perjalanan untuk melepaskanmu, daripada melakukan perjalanan denganmu, yang aku tau kamu pun tetap singgah di berbagai arah dan meminta mereka untuk mendampingimu selama perjalananmu menemukan tujuan arah pulang.
Perjalananku melepaskanmu, mungkin akan membutuhkan waktu lebih banyak daripada perjalananmu mencari tempat pulang.
Perjalananku melepasankanmu, mungkin akan masih banyak hari yang harus dilalui, namun tak akan pernah lagi ku ceritakan.
Keyakinanku mengatakan, aku segera menemukan seseorang yang benar-benar pulang dan menjadikanku sebuah tujuan, tanpa banyak perjanjian ke berbagai tempat, hanya untuk melakukan persinggahan.
Meskipun itu bukan kamu.
Karena aku dan kamu pun tau, hal ternyaman selama perjalanan adalah pulang. Aku dan kamu pun tau, hal terindah selama penantian bukan sebuah pengkhianatan.
Komentar
Posting Komentar