Sepeninggalanmu
Sepeninggalanmu, pada saat itu hingga masa kini. Aku tetap berusaha tegar. Aku tetap berusaha kuat. Aku tetap berusaha tersenyum. Aku tetap berusaha melanjutkan perjalananku. Aku tetap berusaha berdiri sendiri, Memegang erat keinginan dan keputusanku, Tanpa ada seseorang yang bisa mendukungku seperti kau mendukungku dulu. Tanpa ada seseorang yang berani menawarkan solusi terbaik, selain mematahkan harapanku. Sepeninggalanmu, Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan air mata, sedikitpun. Aku yang hanya bisa terdiam, tanpa melakukan apapun. Bunga. Pada saat itu, hanya bunga yang terbesit dalam benakku. Permintaan terakhir darimu, sebulan sebelum peninggalanmu. “Nanti kalau aku wisuda, bawakanku bunga ya” pintamu. “Bunga? Kau mau? Biasanya kau tidak suka dengan hal seperti itu” jawabku. “Iya, untuk yang terakhir. Kapan lagi aku dapat bunga darimu?” “Ya, nanti ku bawakan bunga. Tapi kau harus sembuh ya biar bisa kembali ke Jakarta untuk wisuda” kata...