Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

Sepeninggalanmu

Sepeninggalanmu, pada saat itu hingga masa kini. Aku tetap berusaha tegar. Aku tetap berusaha kuat. Aku tetap berusaha tersenyum. Aku tetap berusaha melanjutkan perjalananku. Aku tetap berusaha berdiri sendiri, Memegang erat keinginan dan keputusanku, Tanpa ada seseorang yang bisa mendukungku seperti kau mendukungku dulu. Tanpa ada seseorang yang berani menawarkan solusi terbaik, selain mematahkan harapanku. Sepeninggalanmu, Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan air mata, sedikitpun. Aku yang hanya bisa terdiam, tanpa melakukan apapun. Bunga. Pada saat itu, hanya bunga yang terbesit dalam benakku. Permintaan terakhir darimu, sebulan sebelum peninggalanmu. “Nanti kalau aku wisuda, bawakanku bunga ya” pintamu. “Bunga? Kau mau? Biasanya kau tidak suka dengan hal seperti itu” jawabku. “Iya, untuk yang terakhir. Kapan lagi aku dapat bunga darimu?” “Ya, nanti ku bawakan bunga. Tapi kau harus sembuh ya biar bisa kembali ke Jakarta untuk wisuda” kata...

Pelajaranku

Sebenarnya apa itu cinta tanpa syarat? Mustahil kita bisa mencintai orang lain terus menerus tanpa syarat, padahal mencintai diri sendiri saja tidak bisa. Bagaimana bisa mencintai orang lain tanpa syarat? Sedangkan kita masih menuntut banyak syarat untuk diri sendiri agar kita bisa menerima diri sendiri. Bohong jika ego dan logika kita tidak menuntut imbalan atas cinta yang kita berikan kepada orang lain. Bohong jika kita bisa menerima kenyataan bahwa orang yang kita cintai memiliki cinta untuk yang lain. Bohong jika kita bisa terus berpegang teguh pada harapan yang tidak berujung pada sebuah kepastian. Bohong jika kita bisa cepat menghilangkan kekecewaan terhadap perasaan. Disaat ego ini semakin meningkat, Disaat logika ini terus mencari sebuah jawaban. Disaat perasaan ini terus memaksa. Disaat diri ini terus mengatur dan mencoba mengendalikan apapun. Disitulah semesta bekerja, Memaksa keadaan sekalipun menyakitkan. Memaksa kita untuk menger...

Kali ini

Kali ini aku memberanikan diri untuk menghubunginya. Tapi, dia tidak menggubrisnya. Ada apa dengannya? Apakah aku membuatnya terluka? Apa salahku sebenarnya? Kenapa dia menghindar? Kenapa seakan dia menghilang? Kenapa dia memutuskan komunikasi? Bagiku, kita ini masih berteman. Apa masalahnya? Harus bagaimanakah aku? Melepaskan? Melupakan? Apapun itu, aku lelah. Aku berserah. Aku pasrah. Biarkan semesta yang mengatur. Akan bagaimana hubungan ini? Harus kemana akhir dari perjalanan ini.