Postingan

Hai kamu, anak kecilku.

Hai kamu, anak kecil yang periang  Kamu tumbuh dengan sehat dan baik hati Kamu tumbuh dengan penuh kasih Kamu tumbuh sebagai anak yang cerdas Hai kamu, anak kecil yang manja Kamu tumbuh menjadi dewasa Kamu tumbuh dengan segala bakat dan kemampuan Kamu tumbuh dengan hati dan fisik yang kuat Hai kamu, anak kecil yang manis Kamu tumbuh menjadi cantik Kamu tumbuh dengan segala kelebihanmu Kamu tumbuh dengan kepercayaan dirimu Hai kamu, anak kecil yang penuh dengan impian Percaya padaku, mimpi-mimpimu itu perlahan akan menjadi nyata. Mungkin ada banyak rintangan yang harus kamu lewati, tapi kamu akan selalu berhasil melewatinya. Hai kamu, anak kecil yang penuh dengan semangat. Mungkin nanti akan ada berbagai hal yang berusaha merenggut semangatmu. Mungkin ada saat kamu akan kalah dan kehilangan semangatmu. Mungkin akan ada keputusan yang membuatmu merasa gagal. Mungkin ada kejadian yang membuatmu merasa sia-sia. Hai kamu, anak kecil yang penuh cinta. Mungkin saat dewasa nanti, kamu akan...

Bagaimana?

Bagaimana kalau realitanya aku tidak pernah cukup?  Kehadiranku, pencapaianku,  ah bahkan untuk sekedar menulis saja aku benci. Hanya lelah yang terasa. Bergeming antara rasa dan pikiran. Bersatu dalam kalut. Sembarang, sudah tidak ada lagi yang bisa diuraikan.  Mungkin terlalu sakit, atau terlalu pahit. Berisik. Sudah terlalu berisik aku mendengar setiap perkataan. Terlalu banyak sumber suara. Luar terlebih dalam. Ah, bagaimana kalau ternyata aku yang paling salah? Terlalu muak juga menilai siapa yang benar dan salah. Siapa juga yang ingin disalahkan? Tak satupun. Bungkam. Mungkin saat ini bungkam hanya pilihan satu-satunya. Atau bahkan, pilihan untuk bungkam pun sebenarnya tidak ada? Terlalu jenuh menghadapinya. Tapi, apakah bisa jika seseorang menjalani kehidupannya tanpa pilihan? Rasanya seperti seluruh kehidupannya direnggut. Terpaksa menjalani seperti robot yang tak bertuan. Bagaimana?  Jika aku hanya bisa bertanya satu kata,  bagaimana adalah pertanyaanku...

Labirin

Tidak. Tidak akan ada lagi. Selesai. Sudah waktunya berhenti. Rasanya labirin yang ada terlampau tinggi. Gelap. Penuh sesak.  Jangankan untuk keluar, untuk melanjutkan perjalanan saja rasanya mustahil. Bukan. Bukan karena mudah menyerah. Hanya saja labirin ini terlalu panjang untuk dilalui.  Hanya saja labirin ini sangat rumit. Aku sudah kehabisan nafas untuk tetap sadar. Aku sudah kehabisan tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Kalau aku diperbolehkan, rasanya aku ingin mati dalam labirin itu. Tanpa ada orang yang mengenali. Tanpa ada orang yang menemukan. Karena jika aku tetap harus keluar dari sana, sama saja aku akan mati tepat di pintu keluar.  Aku ini sudah tidak punya ekspektasi. Tapi harapanku pun sudah pupus.  Setidaknya untuk saat ini, yang ku tau, kematian adalah ujung dari segala hal. Entah saat terjebak di dalam labirin, ataupun saat berhasil keluar dari labirin.  Hanya satu yang pasti selalu siap menjemputku. Kematian. Ya, kematian yang akan menjemp...

Tuntutan

Ketika segala hal sudah habis untuk sebuah toleransi. Perasaan lelah dan amarah yang memuncak. Kebencian yang teramat dalam. Bohong jika saya bisa menahan semuanya. Apakah ini hanya sekedar dalam hitungan tahun? Tidak. Mungkin separuh hidup saya. Selama itu saya menjalani kehidupan dengan kenangan buruk.  Sebanyak itu saya menanggung semua perasaan sendiri. Selama itu saya berusaha menetralisir semua kondisi. Menerima keadaan sekalipun tidak ingin. Pahit, getir, asam, manis, semua terasa hambar. Semakin sering menyimpan, semakin hambar yang didapat. Bohong jika diseparuh hidup saya, oh atau mungkin selama hidup saya ini tidak memiliki tuntutan. Nyatanya, hanya sekedar memenuhi keinginan seseorang saja sudah menjadi sebuah tuntutan.  Nyatanya, tidak boleh ada kata gagal dalam setiap proses. Nyatanya, tidak boleh berhenti hanya pada satu pencapaian. Semua itu hanyalah sebuah tuntutan.  Entah siapa yang menuntut, dirimu sendiri, orang terdekat, orang sekitar atau mungkin sem...

Coretan Biru

Katanya, jadi seorang pemimpin itu harus belajar menerima kesalahan dari perbuatan orang lain Katanya, jadi seorang pemimpin itu harus bisa mendengar dan berani bersuara Katanya, jadi seorang pemimpin itu harus mau melihat dan terbuka dari berbagai sudut Katanya, jadi seorang pemimpin itu harus  bertindak bijak untuk semua kepentingan Tapi... Banyak pemimpin yang hanya melihat dari satu sudut. Banyak pemimpin yang enggan mendengar. Banyak pemimpin yang enggan peduli dengan setiap kesalahan. Banyak pemimpin yang menjadikan kewenangannya untuk kepentingan pribadi. Menjadi seorang pemimpin itu sulit. Banyak tanggungan yang harus diselesaikan. Keberanian dan waktu yang tak terbatas untuk semua kepentingan. Meredam ego dan perasaan pribadi. Memilah namun tetap bertindak adil. Memiliki empati namun tetap tegas dengan pendiriannya. Pengetahuan yang didapat seimbang dengan apa yang diberi. Lalu, muncul sebuah pertanyaan. Apa yang menjadi tolak ukur agar dapat dikatakan menjadi pemimpin yan...

Untuk Apa?

Aku ini hidup, tapi mati. Aku ini ada, tanpa dinanti. Aku sendiri bukan ingin menyendiri. Katanya, aku ini pembuat masalah. Katanya, sia-sia aku tumbuh dewasa. Katanya, tidak ada yang bisa menerima.  Katanya, tidak pantas dibanggakan. Aku ini untuk apa? Keceriaanku, meredup. Rasaku pilu. Duniaku, semakin hancur. Aku ini untuk apa? Tidak ada yang bisa dilakukan. Harapan semakin kosong. Aku ini untuk apa? Tidak ada pertemanan. Tidak ada kekeluargaan. Tidak ada yang menginginkan. Aku yang selalu disalahkan. Aku yang selalu dipaksakan.  Seakan aku ini selalu bisa memenuhi segalanya. Aku ini telah tiada. Sejak aku terlahir di dunia.  Aku ini sungguh fana. Aku ingin kembali ke semula. Tidak ada lagi tempat berkeluh kesah. Tidak ada lagi alasan untuk menghembuskan nafas. Aku ini untuk apa? Semua tidak masalah tanpa kehadiranku.  Semua akan berjalan normal tanpa diriku. Semua tetap bergembira atas kepergianku. Aku ini untuk apa? Tangisanku tak ternilai. Perasaanku tak pentin...

Andai

​Kepergianmu merupakan pukulan terbesar Aku meminta satu orang yang bisa dijadikan tempat bersandar, tempat ternyaman, tempat teraman Kehadiranmu bukan harapanku Kepergianmu juga bukan harapanku Semua terjadi terlalu cepat Sementara, aku butuh waktu lebih lama atas kehadiranmu Andai kehadiranmu masih ada Akankah kita masih bersama? Ataukah kamu juga akan pergi seperti yang lainnya? Akankah kamu bertahan dan bersedia bersamaku? Ataukah kamu akan hilang dengan segala janji semu? Andai ragamu masih disini Akankah dia bersedia mendampingi? Ataukah justru ada keinginan untuk pergi?  Enam tahun kepergianmu bukan waktu yang sebentar Bukan pula waktu yang lama Aku bahkan tidak mengerti apapun Bagaimana aku harus mengelola dan menerima Bagaimana aku harus melanjutkan kehidupan Semua hanya terasa berat bagiku. Andai kamu masih disini Akankah kamu mendengarkan sebanyak apapun keluh kesah? Ataukah kita akan melanjutkan berbagai kisah dengan potret kehidupan yang layak dan indah? Andai kamu mas...