Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2022

Sebuah Jawaban

​Aku memaafkanmu jauh dari sebelum kata maaf keluar dari mulutmu. Aku menerima segala hal darimu, baik burukmu, suka dukamu, hingga segala keputusanmu. Saat itu, seharusnya tak masalah jika aku marah atau bahkan mencaci. Tapi, aku memilih menggunakan segala kesempatan yang aku punya untuk meminta agar kamu selalu dilindungi. Aku meminta agar laut menjadi sahabatmu yang akan menjaga setiap perjalananmu. Aku meminta kebaikan yang akan hadir untukmu dan segala kebahagiaan yang berlangsung lama dalam hidupmu. Aku menyadari satu hal, ketulusan akan sangat menyakitkan. Tapi aku percaya, segala ketulusan dapat membawamu kedalam kebaikan.  Kebaikan akan selalu menghampirimu. Aku sudah benar-benar merasa cukup atas apa yang aku lakukan untukmu. Mungkin saat itu, kamu tidak menyadari. Wajar jika kamu merasa aku ini tak begitu penting dalam kehidupanmu. Karena saat itu, kamu sedang merasakan hal baru yang mungkin terlihat lebih menyenangkan daripada sekedar menjaga komitmenmu. Aku kecewa, aku...

Kalut

​Kali ini aku mengerti, nyatanya tidak semua orang mampu mengakui kesalahan.  Mungkin mereka mampu jika hanya sekedar mengatakan maaf. Kali ini aku mengerti, banyak hal yang memang hanya bisa kita terima tanpa menuntut. Penjelasan yang dianggap penting, nyatanya bisa menjadi sekedar perlakuan yang dianggap tidak penting. Aku tau, segala hal yang sudah menjadi takdir pasti akan terjadi.  Aku tau, saat itu pula aku harus menerima. Aku bisa saja lari dan menghindar, tapi itu membuatku sangat lelah. Lalu, bagaimana harus ku bersikap? Apakah aku sudah benar-benar menerima atau itu hanya sekedar isi pikiranku saja? Bagaimana aku tau kalau aku sudah bisa mengikhlaskan segalanya? Sementara, sudah terlalu lama perasaan tidak mengenal emosi selain kosong dan kalut.