Postingan

Singkat Cerita

Singkat cerita dari sudut pandangku, terkait perjalanan panjang tentangmu. “Ah, aku lelah.” “Aku lelah, sebenarnya apa yang harus aku ambil pelajarannya?” “Aku lelah, pada ketidakpastiannya” “Aku lelah, pada setiap masa penantiannya” “Aku lelah, untuk sekedar mengeluh saja sudah tidak bisa” “Aku lelah, untuk mengeluarkan amarah pun sudah tak kuasa” Hanya itu yang bisa aku ucapkan setiap harinya, di saat ketakutan ini mulai terbayang. “Pola yang berulang” “Kemudian perlahan menghilang” “Lalu, muncul berbagai alasan yang seakan menjadi penghalang” Hanya itu yang dapat dipikirkan, di saat aku merasa diabaikan. Seharusnya pada satu titik aku sudah bisa melepaskan, tidak perlu lagi mengadakan pertemuan. Sehingga tidak muncul sebuah harapan. Tidak ada lagi angan atas kebersamaan. Karena yang kembali belum tentu bertahan. Padahal yang diharapakan adalah sebuah kestabilan.

Pertemuan Kita

Pertemuan Pertama Aku, mengenalmu sebelas tahun silam. Pertemuan pertama yang mungkin tidak sesuai rencana. Pertemuan pertama yang terkesan menyakitkan. Pertemuan pertama untuk sebuah perpisahan. Sembilan tahun silam, aku semakin takut kehilangan seorang teman sepertimu. Aku tak yakin perasaan apa ini. Tapi yang ku tau, aku senang berada di dekatmu. Aku merasa aman di sekitarmu. Aku merasa nyaman bersamamu. Aku menjadi diriku sendiri. Aku mengerti apa yang aku mau, aku mengerti apa yang harus ku tinggalkan. Aku, merasa utuh. Aku bisa memperlihatkan sisi lemahku. Aku bisa memperlihatkan sisi terburukku. Aku bisa menunjukkan sisi terbaikku tanpa takut adanya persaingan. Karena aku percaya. Apapun itu, kita bisa saling mengimbangi. Bagaimapun itu, kita bisa saling memberikan dukungan. Kita bisa saling menasehati. Kita bisa saling memberi. Kita bisa saling bebas berpendapat. Kita bisa saling memperbaiki. Kita bisa saling melengkapi. Aku sudah memiliki impian bersama...

Karena Kita Seorang Manusia

Karena kita hanyalah seorang manusia. Karena kita memiliki perasaan. Karena kita bisa saling menyakitkan. Tolong, hargai setiap keberadaan manusia. Tolong, hormati setiap manusia. Sekalipun aku mampu membayar jasanya, Sekalipun aku mampu memerintahkannya, Sekalipun aku mampu bertindak semauku, Sekalipun aku mampu berkehendak. Tolong, jaga setiap hati manusia. Tolong, lindungi setiap manusia. Tolong, pedulikan setiap manusia. Sekalipun aku mampu mengacuhkannya, Sekalipun aku mampu mengabaikannya, Sekalipun aku mampu melupakannya. Sekalipun aku mampu membencinya. Tolong, cintai setiap manusia. Tolong, berlaku lembut kepada setiap manusia. Sekalipun aku mampu mencacinya, Sekalipun aku mampu menghujatnya, Tolong, berlaku baik kepada setiap manusia. Karena kita berada dalam roda kehidupan, Roda yang selalu berputar mengikuti porosnya, Roda yang selalu berputar menyeimbangi kehidupan. Tolong, perlakukan manusia seperti kita ingin di...

Sepeninggalanmu

Sepeninggalanmu, pada saat itu hingga masa kini. Aku tetap berusaha tegar. Aku tetap berusaha kuat. Aku tetap berusaha tersenyum. Aku tetap berusaha melanjutkan perjalananku. Aku tetap berusaha berdiri sendiri, Memegang erat keinginan dan keputusanku, Tanpa ada seseorang yang bisa mendukungku seperti kau mendukungku dulu. Tanpa ada seseorang yang berani menawarkan solusi terbaik, selain mematahkan harapanku. Sepeninggalanmu, Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan air mata, sedikitpun. Aku yang hanya bisa terdiam, tanpa melakukan apapun. Bunga. Pada saat itu, hanya bunga yang terbesit dalam benakku. Permintaan terakhir darimu, sebulan sebelum peninggalanmu. “Nanti kalau aku wisuda, bawakanku bunga ya” pintamu. “Bunga? Kau mau? Biasanya kau tidak suka dengan hal seperti itu” jawabku. “Iya, untuk yang terakhir. Kapan lagi aku dapat bunga darimu?” “Ya, nanti ku bawakan bunga. Tapi kau harus sembuh ya biar bisa kembali ke Jakarta untuk wisuda” kata...

Pelajaranku

Sebenarnya apa itu cinta tanpa syarat? Mustahil kita bisa mencintai orang lain terus menerus tanpa syarat, padahal mencintai diri sendiri saja tidak bisa. Bagaimana bisa mencintai orang lain tanpa syarat? Sedangkan kita masih menuntut banyak syarat untuk diri sendiri agar kita bisa menerima diri sendiri. Bohong jika ego dan logika kita tidak menuntut imbalan atas cinta yang kita berikan kepada orang lain. Bohong jika kita bisa menerima kenyataan bahwa orang yang kita cintai memiliki cinta untuk yang lain. Bohong jika kita bisa terus berpegang teguh pada harapan yang tidak berujung pada sebuah kepastian. Bohong jika kita bisa cepat menghilangkan kekecewaan terhadap perasaan. Disaat ego ini semakin meningkat, Disaat logika ini terus mencari sebuah jawaban. Disaat perasaan ini terus memaksa. Disaat diri ini terus mengatur dan mencoba mengendalikan apapun. Disitulah semesta bekerja, Memaksa keadaan sekalipun menyakitkan. Memaksa kita untuk menger...

Kali ini

Kali ini aku memberanikan diri untuk menghubunginya. Tapi, dia tidak menggubrisnya. Ada apa dengannya? Apakah aku membuatnya terluka? Apa salahku sebenarnya? Kenapa dia menghindar? Kenapa seakan dia menghilang? Kenapa dia memutuskan komunikasi? Bagiku, kita ini masih berteman. Apa masalahnya? Harus bagaimanakah aku? Melepaskan? Melupakan? Apapun itu, aku lelah. Aku berserah. Aku pasrah. Biarkan semesta yang mengatur. Akan bagaimana hubungan ini? Harus kemana akhir dari perjalanan ini.

Ikatan macam apa ini?

Saat itu, saat hati ini perlu sembuh… Sampai suatu ketika aku bertemu dengannya. Dia tampak tak asing bagiku. Pertama melihatnya saja seperti sudah mengenal lama. Anehnya, pertama kali saling sapa, hati ini seperti mengetahui kalau harus menjaga jarak. Anehnya, pertama kali melihat, hati ini berkata “jangan, dia sudah memiliki yang lain”. Tapi dalam ruang lingkup yang sama, tidak mungkin terus menghindar bukan? Pasti akan ada suatu hal yang mengharuskan untuk berkomunikasi dengannya. “Menjaga jarak” hanya itu yang terpikirkan. Tapi   semakin dihindari, semakin situasi seakan memaksa untuk terus mendekat. Semakin banyak pula pertanyaan yang muncul. Siapa dia sebenarnya? Dia, orang yang baru ku kenal, tetapi pertemuan ini membuatku merasa seperti menemukan sesuatu yang hilang. Apakah kita sudah pernah bertemu sebelumnya? Atau mungkinkah kita sudah pernah saling mengenal sebelumnya? Koneksi? Apakah kita pernah memiliki koneksi sebelumnya? Semaki...