Pelajaranku
Sebenarnya apa itu cinta tanpa
syarat?
Mustahil kita bisa mencintai
orang lain terus menerus tanpa syarat,
padahal mencintai diri sendiri
saja tidak bisa.
Bagaimana bisa mencintai orang
lain tanpa syarat?
Sedangkan kita masih menuntut
banyak syarat untuk diri sendiri agar kita bisa menerima diri sendiri.
Bohong jika ego dan logika kita
tidak menuntut imbalan atas cinta yang kita berikan kepada orang lain.
Bohong jika kita bisa menerima
kenyataan bahwa orang yang kita cintai memiliki cinta untuk yang lain.
Bohong jika kita bisa terus
berpegang teguh pada harapan yang tidak berujung pada sebuah kepastian.
Bohong jika kita bisa cepat
menghilangkan kekecewaan terhadap perasaan.
Disaat ego ini semakin meningkat,
Disaat logika ini terus mencari
sebuah jawaban.
Disaat perasaan ini terus
memaksa.
Disaat diri ini terus mengatur
dan mencoba mengendalikan apapun.
Disitulah semesta bekerja,
Memaksa keadaan sekalipun
menyakitkan.
Memaksa kita untuk mengerti dan
menerima.
Memaksa kita untuk belajar.
Memaksa kita untuk menyerah.
Memaksa kita untuk berhenti.
Aku, yang terbiasa marah jika
tidak mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaanku.
Dipaksa untuk menerima dari tidak
adanya jawaban yang diinginkan.
Aku, yang terbiasa mengendalikan
sesuatu.
Dipaksa untuk berhenti.
Aku, yang terbiasa untuk
mendapatkan apapun yang aku mau.
Dipaksa untuk melepaskan semua
keinginanku.
Aku, yang terbiasa memilih sesuai
keinginanku.
Dipaksa untuk menerima tanpa
memilih.
Batinku….
“Semesta, pelajaran apa yang
harus aku terima sebenarnya?”
“Aku sudah cukup sakit atas semua
prosesnya.”
“Aku sudah kehilangan semua yang ingin
ku miliki.”
“Aku sudah melaluinya sendiri.”
“Ikhlas? Sabar? Sesulit itu
pelajaran yang harus ku alami?”
“Aku hanya ingin bahagia”
“Apa? Aku harus merubah semua
kebiasaanku untuk bisa bahagia?”
“untuk apa? Iya, aku paham. Untuk
kebaikanku. Untuk kebahagiaanku yang abadi.”
“abadi? Padahal, aku pikir tidak
ada yang abadi di dunia ini”
Karena itulah, kami berikan semua
pelajaran ini kepadamu. Karena itulah, kami memberikan semua ini kepadamu. Agar
kamu memahami tidak ada yang abadi disini. Agar kamu mengerti dan agar kamu
percaya bahwa tidak ada yang bisa kamu harapkan pada mahluk.
“lalu aku harus bagaimana?”
Cukup menerima, cukup berserah
dan cukup percayakan kepada kami. Kami mengatur semuanya, kamu akan tau
jawabannya pada waktu yang sudah kami tentukan.
“apa tidak bisa disegerakan?”
Tidak. Semua ada waktunya. Jika
kamu memaksa, jika kamu berusaha mengendalikan, akan semakin keras kami berikan
pelajaran kepadamu. Ikhlaskan dan bersabarlah. Semua sudah diatur. Kamu hanya
perlu menerima apa yang sudah terjadi, kamu hanya perlu melepaskan apa yang
bukan untukmu dan kamu hanya perlu memberikan ruang terhadap apapun yang akan
kami berikan kepadamu.
Jangan berusaha untuk mengatur,
jangan berusaha untuk mengendalikan. Berpasrahlah. Berdoalah, kamu akan
menemukan jawabannya.
“Baiklah, aku sudah cukup lelah. Terserah.
Semua kau yang atur. Tapi tolong kabulkan permintaanku. Aku hanya ingin
bahagia. Cukup bagiku merasakan kesakitanku. Cukup bagiku selalu merasa
kehilangan secara paksa. Cukup bagiku untuk melalui berbagai hal menyedihkan.”
Kamu bisa bahagia dengan menerima
diri kamu sendiri, apapun kondisinya. Kamu bisa bahagia dengan melepaskan dan
membiarkan orang yang kamu cintai saat ini berbahagia. Kamu bisa bahagia, jika
kamu bisa menerima bahwa kamu dengan dia sudah berbeda tempat. Kamu bisa
bahagia jika kamu tidak mengikat keinginan dan harapanmu untuk bersatu dengan
seseorang yang menurutmu tepat sebagai pengganti dia yang sudah tiada. Kamu
bisa berbahagia dengan mengikhlaskan dan memaafkan segalanya.
“Apa ini inti dari cinta tanpa
syarat? Apa ini yang sebenarnya harus ku pelajari?”
Iya, banyak hal yang perlu kamu
ketahui dan perlu kamu pelajari dari sebuah hubungan, cinta tanpa syarat. Mengertilah,
pahamilah, terimalah, belajarlah, dan kamu akan bahagia jika sudah
menyelesaikan dan mengerti akan arti cinta tanpa syarat.
Komentar
Posting Komentar