Ikatan macam apa ini?
Saat
itu, saat hati ini perlu sembuh…
Sampai
suatu ketika aku bertemu dengannya. Dia tampak tak asing bagiku.
Pertama
melihatnya saja seperti sudah mengenal lama.
Anehnya,
pertama kali saling sapa, hati ini seperti mengetahui kalau harus menjaga
jarak.
Anehnya,
pertama kali melihat, hati ini berkata “jangan, dia sudah memiliki yang lain”.
Tapi
dalam ruang lingkup yang sama, tidak mungkin terus menghindar bukan?
Pasti
akan ada suatu hal yang mengharuskan untuk berkomunikasi dengannya.
“Menjaga
jarak” hanya itu yang terpikirkan.
Tapi semakin dihindari, semakin situasi seakan
memaksa untuk terus mendekat.
Semakin
banyak pula pertanyaan yang muncul.
Siapa
dia sebenarnya?
Dia,
orang yang baru ku kenal,
tetapi
pertemuan ini membuatku merasa seperti menemukan sesuatu yang hilang.
Apakah
kita sudah pernah bertemu sebelumnya?
Atau
mungkinkah kita sudah pernah saling mengenal sebelumnya?
Koneksi?
Apakah kita pernah memiliki koneksi sebelumnya?
Semakin
pertanyaan itu muncul, semakin sulit rasanya menemukan sebuah jawaban.
Lelah
dengan pertanyaan yang terus muncul, akhirnya aku menyerah.
Aku
terlalu lelah. Aku terlalu takut. Aku terlalu bosan. Aku terlalu kesal dengan
perasaan dan situasi ini.
“ah
sudahlah… apapun itu, kalau memang jodoh akan bersatu. Jika bukan, ya akan
tergantikan dengan yang lain” Luar biasa sekali pemikiranku ini, yang terlintas
seketika langsung mengenai jodoh.
“Siapa
aku? Apa pantas aku berdoa seperti itu? Dia sudah memiliki yang lain. Ingat ya,
dia sudah merencanakan sesuatu dan kamu tidak berhak untuk mengubah rencananya.”
Umpatku dalam hati.
Aku
terlalu banyak kontemplasi sejak bertemu dengannya.
Aku
terlalu marah pada diri sendiri yang tidak mengetahui apa yang harus di
lakukan.
“Kamu
ini kenapa? Sebelumnya, kamu selalu tau apa yang harus kamu lakukan bukan?
Sebelumnya, kamu tau apa yang harus kamu kendalikan
pada perasaan dan logika kamu.”
Setengah
tahun berlalu…
Aku
tau aku harus menjauh, aku tau aku harus menghindar. Aku tau aku yang harus
pergi, dan aku tau jika aku tidak pergi, dia tidak akan bertindak untuk itu. Keputusan
ini sudah bulat, aku menjauh. Aku menarik diri. Aku pergi. Aku menghilang. Kami,
tidak berkomunikasi lagi. Entah dia merasa atau tidak, aku tidak memikirkannya.
Aku fokus menyembuhkan diriku, aku fokus menenangkan diriku sendiri.
Aku,
memulai karirku. Aku melanjutkan studiku. Aku melakukan berbagai kegiatan yang
belum pernah ku lakukan sebelumnya, aku mengambil kelas bahasa. aku menyibukkan
diriku. Aku mengeksplor diri sendiri, apa yang aku suka dan apa yang tidak ku
suka. Aku semakin tau batasan apa yang bisa ku toleransi dan tidak. Aku semakin
mandiri. Aku pergi kemanapun aku mau, aku melakukan apapun yang aku mau,
sendiri…
Aku
hanya memikirkan agar bisa menjadi lebih baik, agar aku bisa memberikan versi
terbaik yang ada di diriku, untukku. Aku, memantaskan diri. Aku mempersiapkan
diri ini tanpa memikirkan dia sedikitpun.
Setahun
kemudian,
Entah
kenapa secara tiba-tiba aku teringat “empat hari yang lalu, dia ulangtahun. Bagaimana
ya kondisinya?”. Lalu,
pemikiran itu langsung teralihkan.
Sampai
pada akhir tahun, tiba-tiba dia menghubungiku, dia menemuiku.
“aku
sama dia, ambyar” katanya…..
Kaget?
Tentu. Kami sempat terdiam beberapa saat. Tapi, aku mencoba mencairkan suasana
dengan pertanyaan singkat “Kenapa?”.
“Aku
mau fokus aja dengan karirku, dengan studiku, aku mau sembuh dulu.” Jawabnya.
Dalam
hatiku berkata “ya Tuhan, kenapa dia? Kenapa dia mengalami juga apa yang aku
alami?”.
Aku
memilih untuk tidak membahasnya lebih jauh. Aku, memilih obrolan ringan. Aku ingin
melihat dia tersenyum. Aku tidak ingin menyia-nyiakan pertemuan kami saat ini.
“Aku….
Merindukanmu. Aku pikir, setelah setahun berlalu, aku benar-benar melupakanmu.
Aku pikir rasa itu sudah benar-benar hilang” batinku sehari setelah pertemuan
itu.
“aku
harus bagaimana? Aku takut. Akankah terulang? Aku harus menghindar atau harus menghadapi?”
pikiranku kacau.
Dia,
semakin menjukkan keinginannya untuk tetap dekat.
“ah
sudahlah.. hadapi dulu, biasa ajaa.. ini sekedar pertemanan biasa. Toh tidak
ada yang tersakiti kan kalau memang dia sudah sendiri? Mau sampai kapan aku denial dengan hubungan ini?” Pikirku.
“Baiklah,
aku akan menghadapinya.” Tekadku.
Tapi
entah mengapa, dia yang menarik diri dan menghilang tanpa meninggalkan pesan
apapun.
Situasi
ini, persis seperti situasi kami pada setahun yang lalu. Tapi, dengan pelaku
yang berbeda.
“Ikatan
macam apa ini?” pikirku kesal.
Aku
seperti bercermin, aku seperti melihat diriku sendiri. Aku seperti melihat
keburukan-keburukanku. Aku seperti melihat kekacauan dalam diriku. Aku seperti
melihat kekecewaan, kesedihan, amarah, dan keputusan yang aku ambil ada pada
dirinya.
Aku
seperti melihat diriku saat menghindari rasa sakit, saat menutup diri, saat aku
harus berjuang. Ya, aku melihat semua dalam dirinya.
Aku
merasa dia seperti cerminan dari diriku, hanya bagiku dia versi yang berbeda.
Dia versi diriku yang lebih baik, dia versi diriku yang lebih pandai dan lebih
kuat.
Sebenarnya
kita ini siapa? Ada ikatan apa di antara kita? Kenapa aku seperti dapat melihat
diriku sendiri dalam dirimu? Dari hal yang kita sukai, dari cara kita mengendalikan
emosi bahkan cara kita menghindar dari rasa sakit.
Ikatan
macam apa ini?
Mengapa seperti ada suatu siklus yang belum berakhir di antara kita?
Mengapa situasinya terulang? Mengapa kita selalu berlawanan arah?
Mengapa
hal yang ku alami, juga harus kamu alami meskipun dalam waktu yang berbeda?
Mengapa
selalu ada situasi yang berakhir dan situasi baru yang muncul diantara kita?
Ikatan
macam apa ini?
Komentar
Posting Komentar