Sepeninggalanmu


Sepeninggalanmu,
pada saat itu hingga masa kini.

Aku tetap berusaha tegar.
Aku tetap berusaha kuat.
Aku tetap berusaha tersenyum.
Aku tetap berusaha melanjutkan perjalananku.
Aku tetap berusaha berdiri sendiri,
Memegang erat keinginan dan keputusanku,
Tanpa ada seseorang yang bisa mendukungku seperti kau mendukungku dulu.
Tanpa ada seseorang yang berani menawarkan solusi terbaik, selain mematahkan harapanku.

Sepeninggalanmu,

Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan air mata, sedikitpun.
Aku yang hanya bisa terdiam, tanpa melakukan apapun.

Bunga. Pada saat itu, hanya bunga yang terbesit dalam benakku.

Permintaan terakhir darimu, sebulan sebelum peninggalanmu.

“Nanti kalau aku wisuda, bawakanku bunga ya” pintamu.
“Bunga? Kau mau? Biasanya kau tidak suka dengan hal seperti itu” jawabku.
“Iya, untuk yang terakhir. Kapan lagi aku dapat bunga darimu?”
“Ya, nanti ku bawakan bunga. Tapi kau harus sembuh ya biar bisa kembali ke Jakarta untuk wisuda” kataku.

Dua minggu setelahnya kau kembali menghubungiku.

“Aku mau kau mengerti ya, kalau suatu saat aku tidak menghubungimu, aku tidak menemuimu bahkan kau sudah sangat lama menunggu, tolong cari pengganti yang lebih baik dari aku. Tolong cari sosok pria yang bisa menyayangimu dan menjagamu. Kau tau, aku menyayangimu. Kalaupun aku tidak bisa menghubungimu, bukan karena kemauanku. Tapi karena memang aku sudah tidak bisa melakukannya.”

Aku, hanya bisa menangis sambil berkata

“Aku menunggumu. Kau harus sembuh, kau kuat, kita pasti bisa kembali bersama”

“Maaf ya, aku sayang kau” Ucapnya kembali.

Iya, kata-kata yang selama ini aku tunggu akhirnya terucap langsung dari dirinya. Dia, bukan sosok yang bisa menggambarkan perasaannya dengan seseorang melalui kata-kata romantis. Sama sepertiku.

Dia bukanlah sosok pemarah dengan mengatasnamakan kecemburuan, disaat aku sedang asik dengan duniaku sendiri dan dengan impianku tanpa mengikutsertakan dia didalamnya.

Dia bukanlah sosok posesif dengan mengatasnamakan ketakutan akan kehilanganku, disaat aku sedang asik dengan permainanku dan dengan pertemananku.

Dia bukanlah sosok over protective dengan mengatasnamakan kekhawatirannya terhadapku disaat aku sedang asik dengan perjalananku.

Dia yang tau betul cara mengikat tanpa mengekang.
Dia yang tau betul cara memiliki tanpa menggenggam.
Dia yang tau betul memberikan kebebasan dan menerima kepercayaan.
Dia yang tau betul mengenai perlakuan yang harus dia berikan kepadaku.

“Aku mau kau tetap melanjutkan menulis. Aku tau, hanya menulis yang dapat membantumu untuk mengalihkan kesedihanmu. Aku tau, hanya dengan menulis kau mampu meluapkan emosimu. Aku mau kau tetap menulis, agar kau tidak menahan emosimu sendiri. Kau buktikan ya kalau memang itu yang membuatmu bahagia, lakukan saja.” katanya.

“Kan ada kau, aku bisa cerita sama kau. Aku tidak perlu menulis lagi kalau ada kau. Tidak apa aku berhenti menulis” jawabku.

“Kau harus menulis, aku suka tulisanmu. Aku suka cara kau menyampaikan pesan atau berita untuk orang lain. Aku suka melihat kau sibuk dengan para editor, dan aku suka saat kau menggali informasi dari setiap narasumber.” Lanjutnya.

“Mana mungkin aku bisa tetap bergelut di dunia itu? Kau tau? Aku harus menyelesaikan dan mendalami ilmu dari pendidikan yang aku ambil saat ini. Kau tau? Tidak ada yang mendukungku” ucapku.

“Kau mau melanjutkan acaraku?” Pintanya

“Mana bisa aku beralih ke programmu? Bagaimana bisa aku menggantikan posisimu?” Tanyaku kembali.

“Kau tau? Aku suka saat kau memberikan ide, membuat rundown, melihatmu mengambil alih floor dan melihatmu melakukan evaluasi” ucapnya tegas.

“Kau tau, aku tidak bisa bertahan dan melakukan sejauh itu kalau bukan kau produsernya. Aku terlalu kaku untuk mengambil alih itu semua. Aku bisa membantumu, tapi tidak menggantikanmu.” protesku.

Percakapan singkat yang mendalam itu, membuatku kembali berpikir, seminggu setelah sepeninggalanmu.

“harusnya aku membawakan kau bunga saat kau wisuda hari ini”
“harusnya aku menemuimu saat ini, setelah tiga bulan tidak bertemu”
“mana bisa aku kembali ke tempat kita biasa bersama, setelah sepeninggalanmu?”
“mana bisa aku melanjutkan tulisanku, disaat aku harus melawan pemikiran orang-orang sendirian?”
“mana bisa aku meneruskan acaramu, disaat aku tau kalau diri ini tidak lebih hebat darimu?”
“mana bisa aku mencari penggantimu, disaat aku tau kau orang terbaik yang pernah Tuhan kirimkan untukku?”
“mana bisa aku melupakanmu sedangkan kau terlalu melekat dalam hati dan ingatanku.”

Aku, meminta maaf karena tidak bisa melanjutkan acaramu. Aku, meminta maaf karena tidak bisa melanjutkan apa yang aku sukai. Aku, minta maaf karena belum bisa memenuhi permintaanmu untuk mencari penggantimu. Aku, hanya tidak mau kau digantikan oleh orang yang salah.

Dua tahun sepeninggalanmu, aku masih mengenangmu. Aku masih merasakan kehadiranmu disaat-saat tertentu. Aku masih berharap bisa bertemu denganmu disana. Aku masih berharap bisa berbicara padamu dan menceritakan semua keluh kesahku.

Aku, meminta maaf atas lamanya proses penyembuhan hatiku. Aku, meminta maaf atas lamanya proses membuka hatiku kembali. Aku, meminta maaf karena pengalihan emosiku justru menyakiti diriku sendiri. Aku, meminta maaf karena tidak bisa semandiri yang kau harapkan. Aku, meminta maaf karena aku tidak sekuat yang kau pinta. Aku, meminta maaf karena ketidakmampuanku untuk melepaskanmu, sepenuhnya. Dan aku meminta maaf karena baru memahami keinginanmu untuk memberikan pelajaran dalam perjalanan hidupku.

Aku, merindukanmu. Tapi aku harus melepaskanmu.
Aku, menyayangimu. Tapi aku harus merelakanmu.
Aku, berterima kasih atas kehadiranmu.

Dan aku, meminta maaf karena kepergianmu dua tahun lalu hanya membuatku terdiam tanpa melakukan apapun untuk mengantarkan ke tempat pengistirahatanmu yang terakhir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena Kita Seorang Manusia

Untuk Apa?

Coretan Biru