Pertemuan Kita


Pertemuan Pertama

Aku, mengenalmu sebelas tahun silam. Pertemuan pertama yang mungkin tidak sesuai rencana.
Pertemuan pertama yang terkesan menyakitkan. Pertemuan pertama untuk sebuah perpisahan.

Sembilan tahun silam, aku semakin takut kehilangan seorang teman sepertimu.

Aku tak yakin perasaan apa ini. Tapi yang ku tau, aku senang berada di dekatmu. Aku merasa aman di sekitarmu. Aku merasa nyaman bersamamu. Aku menjadi diriku sendiri. Aku mengerti apa yang aku mau, aku mengerti apa yang harus ku tinggalkan. Aku, merasa utuh. Aku bisa memperlihatkan sisi lemahku. Aku bisa memperlihatkan sisi terburukku. Aku bisa menunjukkan sisi terbaikku tanpa takut adanya persaingan.

Karena aku percaya. Apapun itu, kita bisa saling mengimbangi. Bagaimapun itu, kita bisa saling memberikan dukungan. Kita bisa saling menasehati. Kita bisa saling memberi. Kita bisa saling bebas berpendapat. Kita bisa saling memperbaiki. Kita bisa saling melengkapi.

Aku sudah memiliki impian bersamamu. Bukan sekedar mimpi pada masa itu, tapi untuk masa yang akan datang. Aku memiliki harapan besar terhadapmu. Terhadap kita.

Pertemuan pertama, aku sudah sangat takut kehilanganmu.

Tapi semakin besar rasa ingin bersama, semakin semesta memaksa untuk saling melepaskan. Semakin besar rasa untuk memiliki, semakin besar semesta bertindak untuk saling menjauhkan. Semakin besar rasa ingin bersatu, semakin besar semesta bekerja untuk memisahkan.

Perpisahan, aku bahkan lupa alasan dibalik aku melepasmu. Aku lupa alasan dibalik kita berpisah. Aku lupa alasan dibalik kepergian kita. Aku lupa alasan dibalik hal yang membuat kita saling menyakiti. Aku merasa tersakiti, aku merasa terkhianati. Kamu merasa semua itu sesuai keinginanku.

Selama masa perpisahan, yang ku tau kamu mencoba menerima. Kamu mencoba melepaskan dan kamu memilih kebahagiaan baru. Aku pun sama. Tapi, cara kita menerima kenyataan berbeda. Kamu masih tetap menghubungiku. Dan aku selalu lari menjauh dari jangkauanmu. Kita, punya tujuan yang sama. Tapi selalu berbeda cara. Ya, kita yang selalu berbeda cara pandang. Selalu berbeda cara bertindak.

Yang aku tau dari pertemuan pertama, kita memiliki banyak persamaan. Persamaan emosi yang tidak stabil. Amarah kita yang sama memuncak. Ego kita yang sama besar. Keinginan mendominasi yang sama kuat. Keinginan mengatur yang sama keras.

Persamaan kita yang justru saling menyakitkan. Persamaan kita yang justru saling melepaskan.

Aku berusaha melepaskanmu. Aku berusaha melupakanmu. Aku berusaha pergi. Aku berusaha untuk tidak bertemu denganmu, dalam kesempatan apapun. Meskipun sesekali aku masih mencari tau kabarmu, aku masih melihatmu dari kejuahan.

Tapi yang ku tau selama aku berproses merelakanmu, kamu sudah meneruskan perjalananmu. Kamu sudah menemukan kebahagiaanmu. Kamu sudah menetapkan tujuanmu. Aku, masih mencari jalan, menentukan arah, sampai pada titik terlelah. Aku berserah. Aku pasrah. Aku benar-benar melepaskanmu. Teringat? Tentu. Dalam perjalanan panjangku, dalam keheninganku, dalam pencarianku, dalam penantianku, masih ada kamu yang terlintas di benakku. Lalu bagaiamana hatiku? Aku tidak merasakan apapun. Hampa? Tentu. Merasa ada yang hilang? Pasti. Aku sudah merasakan bertahun-bertahun kehilangan separuh jalanku, kehilangan tujuanku, kehilangan sahabat terbaikku, kehilangan separuh jiwaku sejak kita memutuskan untuk berdiri pada masing-masing jalan yang akan kita tempuh. 

Sembilan tahun aku mencoba merelakan, memaafkan, dan menerima. 
Bagaimanapun dan apapun kondisi kita.

Empat tahun silam,

Aku mendapatkan sebuah kesempatan, aku menghadiri acara pertemuan. Aku memaksa diri ini untuk hadir. Aku memaksa diri ini untuk membuktikan kalau semua sudah kembali membaik. Aku memaksa diri ini untuk mulai membangun awal pertemanan baru denganmu. Tapi, semua berjalan sesuai kehendakmu. Acuh, penolakan, itu yang ku dapatkan. Apa aku mengalah begitu saja denganmu? Tidak. Itu bukan caraku.

Aku tetap merasa angkuh pada kekuatan hati. Aku tetap merasa hebat pada kesakitan yang selama ini ku tutupi, bukan aku hilangi. Aku menolak sembuh. Aku hanya menutupi, aku lari menghindar seakan semuanya sudah benar-benar selesai.

Aku hanya merasa kelelahan, sampai pada titik terendah, aku menyerah. Aku berpikir semua sudah benar-benar berakhir. Aku mencari tujuan utamaku. Tujuan dalam perjalanan hidupku selain romansa. Aku mengalihkan semua romansa di hidupku.

Aku beralih, aku pergi. Aku meyakinkan diri. Aku pantas merasa bahagia seperti kamu yang sudah bahagia terlebih dulu. Aku memantaskan diri agar bisa bersanding dengan orang-orang yang memang ditakdirkan untukku. Aku berusaha menjadi versi terbaik dari diriku, agar aku bisa bersama dengan orang-orang yang aku kasihi. Aku berusaha menjadi sosok perempuan mandiri yang tegar, seperti permintaan setiap orang agar aku tidak ditinggalkan, agar aku tidak merasa kehilangan.

Sejak itu, aku sudah benar-benar menutup pintuku untuk dirimu. Aku membuat pagar, aku memperkuat pertahananku agar kamu tidak bisa kembali memasuki kehidupanku. Aku membawa pedang untuk tetap menjaga pertahananku, yang seakan bisa saja kamu runtuhkan kapanpun.

Dua tahun silam,

Aku hanya meminta. Aku berpasrah. Aku percaya akan ada kebahagiaan untukku. Aku percaya akan datang seorang yang terbaik untukku. Dan aku percaya akan dipersatukan dengan orang yang memang ditakdirkan untukku.

Aku tidak pernah berharap itu kamu, aku tidak pernah menyebutmu dalam permohonan kisah romansaku lagi. Aku tidak pernah berpikir akan dipertemukan lagi denganmu, apalagi dipersatukan. Yang aku tau, aku bersyukur pernah menjadi bagian dari perjalanan cintamu. Aku bersyukur pernah menjadi bagian dari keseharianmu. Dan aku bersyukur pernah merasa diinginkan oleh seseorang sepertimu.

Setahun silam,

Pintaku, sudah cukup masa pencarianku. Tolong pertemukan dengan orang yang bisa menerima segala kekurangan bahkan kelebihanku. Bukan dengan orang yang datang dan pergi begitu saja. Bukan dengan orang yang pergi dengan alasan kelebihanku. Bukan dengan orang yang tidak kuat bertahan dengan segala keburukanku. Tolong berikan kado terindah untukku. Aku ingin bertemu dengan orang yang memang untukku. Aku ingin segera dipersatukan.

Entah, permintaanku memang langsung terkabul ataukah ini sekedar ujian untuk mendapatkan segala hal yang benar-benar aku inginkan? Aku tidak tau apa yang membawa dirimu kembali saat ini, tapi yang aku tau aku bersyukur bisa memiliki kesempatan pada pertemuan kedua kita.

Pertemuan kedua, yang seakan menjawab semua pertanyaanku.
Pertemuan kedua, yang seakan memberikan seluruh apapun yang aku minta.
Pertemuan kedua, yang seakan menjadi hadiah terindah bagiku.

Aku bersyukur bisa bertemu denganmu, dalam kondisi yang lebih baik. Aku bersyukur bisa bertemu denganmu, dalam waktu yang tepat. Aku bersyukur, dapat berkenalan denganmu untuk kedua kalinya.

Pertemuan kedua, aku yang masih takut berharap. Aku  yang masih takut membuka hati sepenuhnya. Aku yang masih takut akan perpisahan kita dulu. Aku yang seakan sudah benar-benar tidak mengenalmu.

Pertemuan kedua, entah apa perasaanku sebenarnya. Tapi yang aku tau, kamu tetap menjadi sosok terindah yang menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Kamu tetap menjadi sosok yang terbaik dalam memberikan pelajaran dan membantuku menyembuhkan segala luka.

Pertemuan kedua, entah akan seperti apa ujungnya. Entah akan berakhir seperti apa nantinya, aku tetap berusaha melakukan hal terbaik yang bisa ku lakukan. Aku tetap berjuang untuk hasil yang terindah.

Pertemuan kedua, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Entah sesuai rencana atau tidak. Tapi aku percaya, akan ada pelajaran terindah dan pelajaran terbaik untuk kita.

Satu yang aku sadari, aku mencintaimu dari pertemuan pertama kita, sebelas tahun silam sampai saat ini tanpa harus menerima balasan darimu. Aku menyayangimu tanpa harus memilikimu. Kebahagianmu sudah cukup mampu untuk membuatku bertahan dalam perjalanan panjangku.

Satu yang aku mengerti dari pertemuan kita, aku belajar banyak hal. Aku belajar untuk memberi tanpa harus menerima. Aku belajar untuk mencintai tanpa syarat. Aku belajar berserah. Aku belajar untuk tidak menjadi pribadi yang selalu mengatur. Aku belajar merelakan apa yang bukan menjadi milikku. Aku belajar mengikhlaskan apa yang memang bukan untukku. Aku belajar mendapatkan kebahagiaanku sendiri tanpa bergantung pada mahluk. Aku belajar untuk tidak mengikat apapun. Aku belajar untuk melapaskan. Aku belajar menerima. Menerima kenyataan sekalipun tidak sesuai dengan keinginanku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena Kita Seorang Manusia

Untuk Apa?

Coretan Biru