Sebuah Jawaban
Aku memaafkanmu jauh dari sebelum kata maaf keluar dari mulutmu.
Aku menerima segala hal darimu, baik burukmu, suka dukamu, hingga segala keputusanmu.
Saat itu, seharusnya tak masalah jika aku marah atau bahkan mencaci. Tapi, aku memilih menggunakan segala kesempatan yang aku punya untuk meminta agar kamu selalu dilindungi. Aku meminta agar laut menjadi sahabatmu yang akan menjaga setiap perjalananmu. Aku meminta kebaikan yang akan hadir untukmu dan segala kebahagiaan yang berlangsung lama dalam hidupmu.
Aku menyadari satu hal, ketulusan akan sangat menyakitkan. Tapi aku percaya, segala ketulusan dapat membawamu kedalam kebaikan.
Kebaikan akan selalu menghampirimu.
Aku sudah benar-benar merasa cukup atas apa yang aku lakukan untukmu. Mungkin saat itu, kamu tidak menyadari. Wajar jika kamu merasa aku ini tak begitu penting dalam kehidupanmu. Karena saat itu, kamu sedang merasakan hal baru yang mungkin terlihat lebih menyenangkan daripada sekedar menjaga komitmenmu.
Aku kecewa, aku mengakuinya. Aku marah, aku menyadarinya. Aku nangis berhari-hari, aku melakukannya. Aku tidak menghindar, dan memilih menjalani setiap prosesnya.
Banyak pertanyaan yang muncul dibenakku, banyak pertanyaan yang saat ini belum terjawab. Banyak hal yang ingin aku tau penyebabnya. Tapi aku tidak mendapatkan apapun.
Sampai pada satu titik, aku tidak merasakan amarah dan kesedihan lagi. Aku sudah merasa cukup untuk memendam kecewa dan harus melepaskannya. Aku sudah tidak ingin mengetahui segala jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku. Aku sudah merasa mampu untuk meninggalkannya.
Sampai pada satu titik aku menyadari, kalau aku ikhlas atas segala kejadian ini. Aku tidak mempertanyakan dan tidak menyalahi siapapun.
Pada saat itu dan entah bagaimana, dalam hitungan hari semua berubah.
Sudah sejak lama aku tidak membuka sosial media yang berhubungan dengan segala macam kegiatannya atau tentangnya, tiba-tiba saja aku tidak sengaja melihat salah satu postingan tentangnya.
Dia mengalami kejadian yang aku alami, aku menangis sejadi-jadinya. Aku merasa sakit. Aku melepaskan untuk kebahagiaannya, tapi justru itu membuat dia terluka.
Bukan aku masih menyimpan perasaan padanya atau memiliki rasa ingin kembali padanya.
Aku hanya merasa kasihan. Aku tidak ingin orang lain merasakan kejadian buruk yang aku alami.
Dia kembali menyapaku, dia meminta maaf dan dia bercerita bagaimana dia saat ini.
Tapi, aku semakin menyadari bahwa sudah tidak ada lagi dia yang singgah di hati.
Mungkin aku memaafkanmu, mungkin aku memahamimu, mungkin aku menerimamu.
Tapi tidak untuk sepasang kekasih.
Kali ini aku sadar, begitu banyak pertanyaan yang akan terjawab saat waktunya sudah tiba. Tidak harus terjawab saat ini atau saat kita ingin. Tapi saat kita sudah siap untuk menerimanya.
Segala ketulusan dan kebenaran pada akhirnya akan terungkap. Entah cepat atau lambat. Segala yang menjadi takdir untuk kita, maka itu akan terjadi tanpa harus kita paksakan. Keikhlasan adalah sebuah kunci untuk sebuah ketenangan.
Meskipun banyak hal yang masih menjadi misteri. Tapi aku sadar, ini sudah menjadi sebuah jawaban.
Komentar
Posting Komentar