Bagaimana?

Bagaimana kalau realitanya aku tidak pernah cukup? 

Kehadiranku, pencapaianku, 


ah bahkan untuk sekedar menulis saja aku benci.

Hanya lelah yang terasa.

Bergeming antara rasa dan pikiran.

Bersatu dalam kalut.


Sembarang, sudah tidak ada lagi yang bisa diuraikan. 

Mungkin terlalu sakit,

atau terlalu pahit.


Berisik.


Sudah terlalu berisik aku mendengar setiap perkataan.

Terlalu banyak sumber suara.

Luar terlebih dalam.


Ah, bagaimana kalau ternyata aku yang paling salah?


Terlalu muak juga menilai siapa yang benar dan salah.

Siapa juga yang ingin disalahkan? Tak satupun.


Bungkam.


Mungkin saat ini bungkam hanya pilihan satu-satunya.

Atau bahkan, pilihan untuk bungkam pun sebenarnya tidak ada?

Terlalu jenuh menghadapinya.

Tapi, apakah bisa jika seseorang menjalani kehidupannya tanpa pilihan?

Rasanya seperti seluruh kehidupannya direnggut.

Terpaksa menjalani seperti robot yang tak bertuan.


Bagaimana? 


Jika aku hanya bisa bertanya satu kata, 

bagaimana adalah pertanyaanku saat ini.

Bagaimana bisa aku hidup seperti ini?

Bagaimana bisa bertahan sejauh ini?

Bagaimana bisa terus menerus dihadapi hal serupa?


Banyak hal yang masih tetap harus ditanyakan meskipun sudah mengetahui bahwa jawaban itu tidak pernah ada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena Kita Seorang Manusia

Untuk Apa?

Coretan Biru