Tuntutan

Ketika segala hal sudah habis untuk sebuah toleransi.

Perasaan lelah dan amarah yang memuncak.

Kebencian yang teramat dalam.

Bohong jika saya bisa menahan semuanya.

Apakah ini hanya sekedar dalam hitungan tahun? Tidak.

Mungkin separuh hidup saya.

Selama itu saya menjalani kehidupan dengan kenangan buruk. 

Sebanyak itu saya menanggung semua perasaan sendiri.

Selama itu saya berusaha menetralisir semua kondisi.

Menerima keadaan sekalipun tidak ingin.

Pahit, getir, asam, manis, semua terasa hambar.

Semakin sering menyimpan, semakin hambar yang didapat.

Bohong jika diseparuh hidup saya, oh atau mungkin selama hidup saya ini tidak memiliki tuntutan.

Nyatanya, hanya sekedar memenuhi keinginan seseorang saja sudah menjadi sebuah tuntutan. 

Nyatanya, tidak boleh ada kata gagal dalam setiap proses.

Nyatanya, tidak boleh berhenti hanya pada satu pencapaian.

Semua itu hanyalah sebuah tuntutan. 

Entah siapa yang menuntut, dirimu sendiri, orang terdekat, orang sekitar atau mungkin semesta?

Iya, saya tahu. Semesta pasti memiliki perannya sendiri.

Saya tahu, segalanya pasti memiliki tuntutan masing-masing. 

Tapi, apakah salah jika selama proses pencapaiannya membutuhkan waktu yang lebih panjang? 

Apakah salah jika diseparuh hidup ini, belum ada pencapaian besar yang dapat ditunjukan pada semua?


Ah, sudahlah. 


Saya hanya lelah. 

Saya harap, kehidupan yang selalu dikelilingi oleh segala tuntutan, dapat terselesaikan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena Kita Seorang Manusia

Untuk Apa?

Coretan Biru