Dia Kembali

​Dia kembali.

Saat muncul notifikasi dari salah satu media sosial dan tertera namanya disana, seketika rasa takut itu muncul lagi.

Ingatanku kembali pada kejadian bertahun-tahun lalu yang sudah lama aku coba kubur.

Aku takut terluka lagi.

Aku takut mengalami kehancuran lagi.

Aku takut apa yang sudah aku jalani hingga saat ini kembali seperti beberapa tahun lalu saat ada dia.

Aku sudah tau pasti kalau dia membawa dampak buruk. Tapi sebenarnya, aku lah yang mengambil keputusan dan bertanggung jawab penuh atas diriku.

Dia kembali, bagiku dia tetap menjadi orang yang sama. Orang yang selalu membuat keributan. Orang yang bertindak sesuai keinginannya.

Dia tidak benar-benar berubah. Aku bisa berkata demikian bukan tanpa alasan. Aku bersama dengan dia selama enam tahun dengan drama 3 tahun kebersamaan dan 3 tahun drama pasca berpisah. Kejadiannya selalu berulang. Membuat aku merasa terbuang. Membuat aku semakin membenci dan merasa diri ini tidak berguna. Membuatku selalu bertanya apa kekurangan diriku yang bisa aku ubah. Membuatku selalu merasa tersakiti.

Tapi satu hal yang pasti, terkadang diri kita sendiri yang justru menjadikan kita sebagai seorang korban. Padahal kita tau, kita akan terluka jika terus mempertahankan sesuatu dengan seseorang, tapi kita tetap melakukannya. Itulah yang terjadi pada diriku beberapa tahun lalu.


Kali ini, aku sudah tidak mau lagi memberikan kesempatan untuknya bahkan jika hanya kembali menjadi seorang teman. 


Rasa percayaku hilang, amarahku memuncak. Tangisanku meledak. Aku tidak ingin kembali merasakan masa-masa buruk itu lagi.


Untuk pertama kalinya, aku bersyukur melepaskanmu. Tolong jangan kembali. Jika kembali-mu hanya atas dasar penyesalan, maka aku tegaskan sekali lagi bahwa sudah tidak ada lagi yang perlu disesali. Jika kamu merasa bersalah dan ingin memperbaiki semua, lakukanlah dengan orang baru, jangan denganku. Tidak perlu mengucapkan maaf, karena aku sudah memaafkanmu. Kamu pun tidak perlu bertanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan dulu. Aku sudah mengikhlaskannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena Kita Seorang Manusia

Untuk Apa?

Coretan Biru