Cerita Senja
Aku bertanya, apakah aku sendiri?
Apakah hanya aku yang mengalami kekosongan?
Apakah hanya aku yang merasa sakit hingga puncaknya sudah kehilangan rasa itu?
Apakah hanya aku yang selalu ditinggalkan?
Apakah ada pria yang merasakan hal sama sepertiku?
Pertanyaan itu selalu muncul di setiap saat.
Tidak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaanku, sampai akhirnya di suatu senja aku bertemu dengan dua orang pria yang tengah berdiri di depan gedung kantor sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Keberadaan mereka tepat di belakang aku berdiri.
Aku tidak bermaksud mendengarkan pembicaraan mereka, namun karena jarakku berdiri tidak jauh dari mereka, jadi aku bisa mendengar semua perbincangan mereka.
“Pernah merasakan kehampaan? Kosong saja. Pagi bangun tidur, siap-siap ke kantor, kerja, pulang, tidur dan selalu berulang” -tanya salah satu pria kepada kawannya.
“Masih sakit ya karena dia?” -lawan bicaranya kembali melontarkan pertanyaan.
“Tidak. Sudah terlalu sakit sampai sekarang sudah tidak ada lagi rasa sakit itu. Datar. Tinggal terasa hampa. Kosong. Rutinitas yang sekedar dijalankan dirasa bisa mengalihkan, ternyata tidak.” jawabnya.
Seketika aku tertegun mendengar jawaban itu. Rasanya semesta ingin memberitahu-ku bahwa aku tidak sendiri. Ada orang lain diluar sana yang merasakan hal sama seperti apa yang aku rasakan.
Aku menahan sesak, aku ingin cepat pulang. Seketika aku tersadar. Ini jawaban dari pertanyaanku selama ini bukan? Aku mendapatkannya.
Aku tidak sendiri. Ada orang lain diluar sana yang merasakan sakit, merasakan kehilangan, merasakan kehampaan & ada seorang pria merasakan hal yang sama sepertiku.
Seketika aku tersadar, setiap orang memiliki sisi kelamnya. Setiap orang pernah merasakan kekosongan. Setiap orang punya luka.
Aku teringat pada ucapan seseorang kepadaku kalau setiap orang memiliki sisi baik dan sisi jahatnya masing-masing.
Aku sadar, masih ada ketulusan pada hati seorang pria. Dinginnya, jahatnya atau permainannya bisa saja terjadi atas dasar lukanya. Batasan yang mereka buat, semata untuk menghindari rasa sakit.
Kali ini aku percaya, semesta punya caranya sendiri untuk memberikan kejelasan. Semesta punya caranya sendiri untuk menguatkan dan semesta punya caranya sendiri untuk mencintai.
Komentar
Posting Komentar